Mencengangkan! Utang AS Rp 460.000 T Terbanyak dari China

US President Joe Biden (R) and China's President Xi Jinping (L) shakes hands as they meet on the sidelines of the G20 Summit in Nusa Dua on the Indonesian resort island of Bali on November 14, 2022. (Photo by SAUL LOEB / AFP) (Photo by SAUL LOEB/AFP via Getty Images)

Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Janet Yellen kembali buka suara terkait kemungkinan terjadinya gagal bayar (default) utang. Yellen sudah resah akan kemungkinan default sejak akhir tahun lalu, sebab Kongres AS belum menaikkan pagu utang pemerintah.

Mantan ketua bank sentral AS (The Fed) ini bahkan memperingatkan default akan memunculkan apa yang disebut ‘malapetaka ekonomi’ yang bakal membuat suku bunga lebih tinggi untuk tahun-tahun berikutnya.

Untuk diketahui, berdasarkan data yang terbaru per Januari 2023 utang Amerika Serikat sudah menembus US$ 31 triliun atau sekitar Rp 461 ribu triliun (kurs Rp 14.900/US$) pada tahun lalu angka ini setara dengan 137% dari total PDB nya.

Artinya batas utang tersebut sudah dicapai, dan Kementerian Keuangan AS tidak bisa lagi menerbitkan obligasi untuk membiayai belanja.

Dari tahun ke tahun, jumlah utang Negara Adikuasa memang terus meningkat, disebabkan defisit fiskal yang terus membengkak, dan semakin terakselerasi memasuki abad 21. AS juga tercatat sebagai negara dengan utang terbanyak di dunia.

Melihat data terpisah dari Ticdata dan Departemen Keuangan AS, per Januari 2023 dari total tersebut, lebih dari US$ 7 triliun Amerika Serikat berutang kepada asing, salah satu yang terbesar yakni China, yang kerap dilawan berseteru.

Berdasarkan data dari Departemen Keuangan AS, China memiliki surat utang atau obligasi (Treasury) senilai US$ 859,4 miliar pada Januari 2023. China menjadi negara kreditur terbesar kedua Amerika. Berikut pergerakannya surat utang yang dimiliki China satu tahun terakhir.

Secara tren surat utang atau obligasi (Treasury) yang dipegang China mengalami penurunan. Namun angkanya masih begitu besar. Dalam setahun terakhir, hanya mampu turun 16,87% dari senilai US$ 1.033,8 miliar pada Januari 2022.

Di urutan pertama ada Jepang yang memiliki Treasury AS senilai US$ 1,1 triliun. Jepang menjadi pemegang Treasury AS terbesar sejak pertengahan 2019 lalu mengalahkan China.

Pasca perang dagang antara Amerika Serikat dan China berkobar, pemerintah Tiongkok cenderung melepas kepemilikan Treasury, sementara Jepang terus bertambah. Kemudian melengkapi lima besar kreditur AS ada Inggris, Belgia, dan Swiss.

Sebagaimana diketahui, utang luar negeri dibutuhkan tiap negara untuk menutup defisit anggarannya. Di Indonesia, utang luar negeri banyak difungsikan untuk membiayai foreign exchange gap.

Alhasil, pemerintah AS harus mengurangi belanja, memilih mana yang harus dipenuhi, membayar gaji pegawai negeri, manfaat Jaminan Sosial, atau bunga utang. Jika pemerintah AS memilih tidak membayar bunga utang, maka disebut default.

Namun, untuk diketahui sepanjang sejarah modern Amerika Serikat tidak pernah mengalami gagal bayar. Jika sampai terjadi, maka dampaknya akan parah.

Yellen memperingatkan bahwa kegagalan Kongres untuk menaikkan pagu utang yang menyebabkan gagal bayar akan memicu “malapetaka ekonomi”, suku bunga lebih tinggi untuk tahun-tahun mendatang.

Ketika gagal bayar terjadi, peringkat kredit Amerika Serikat akan di-downgrade. Pelaku pasar bisa berondong-bondong menjual surat utang AS (Treasury), yieldnya akan melesat naik dan bisa mempengaruhi suku bunga di Amerika Serikat. Treasury tidak lagi dipandang sebagai aset aman (safe haven).

Jika sampai terjadi gagal bayar, penurunan peringkat utang bisa sangat tajam, dan gejolak di pasar finansial tentunya akan sangat besar, tidak hanya di Amerika Serikat tetapi juga dunia.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*